Berlin : Sejuta Pesona Kota Perang
Di masa lampau, kota ini merekam banyak peristiwa besar. Pasca-Jerman bersatu, Berlin tumbuh menjadi kota metropolitan. Masih banyak kisah sejarah yang tertinggal di sini. Geliat dunia malamnya pun begitu menggoda. Erva Yudissa mengisahkan perjalanannya kepada MATRA, Firman Yursak menuliskannya kembali.
SAYA tiba pukul 09.30 waktu Berlin. Rasa letih yang membadan lenyap seketika. Mungkin karena ini kunjungan pertama saya dan didorong oleh hasrat untuk tahu tentang kota yang sempat menjadi pusat perhatian dunia di akhir Perang Dunia II ini.
Seusai sarapan, saya berjalan kaki menuju Tiergarten, taman terbesar di Berlin. Taman ini berdampingan dengan Reichstag alias gedung parlemen. Di sekitarnya terdapat banyak kantor perwakilan negara lain.
Saya mendapat cerita, taman ini pernah mengalami kerusakan yang hebat karena serangan bom saat Perang Dunia II, tapi pada 1949 kembali direnovasi. Tiergarten kini banyak difungsikan oleh penduduk kota sebagai tempat bersantai dan piknik.
Jalanan di sekitarnya tampak bersih dan tertata apik. Daun-daun yang beterbangan menunjukkan semilir angin pelan yang mengantarkan udara dingin siang itu. Di salah satu sudut taman itu berdiri Victoria Column, yang menjulang setinggi 210 kaki.
Saya kemudian melintasi jalan yang berada persis di depan gedung Bundeskanzleramt, kantor Perdana Menteri Jerman, lalu melewati sebuah lapangan luas yang berada di depan Reichstag. Di sana terlihat antrean panjang turis memasuki Reichstag. Sekadar info, untuk masuk ke dalam Reichstag, tidak dipungut bayaran.
Berada di bangunan ini membuat pikiran saya berada di masa lalu. “Di sinilah Hitler mengambil keputusan-keputusan penting bagi Nazi,” kata saya dalam hati. Di tengahnya, terdapat ruang kaca hingga ke bagian atap. Foto-foto bersejarah Jerman terdapat di lantai atas. Dulu, dari puncak gedung ini kita bisa melihat kegiatan di daerah Berlin Timur.
Brandenburg Gate berada di sebelah Reichstag, yang dapat dilalui lewat boulevard terkenal Unter den Linden. Saya bergerak ke arah timur Brandenburg Gate. Di depan sana, seorang lelaki tua sedang asyik memainkan komidi putar dengan musiknya.
Bangunan Bersejarah. Masih di jalan Unter den Linden, saya mendapati Opera House. Sesungguhnya bangunan ini dibangun sebagai Royal Opera pada 1741-1743 dengan gaya klasik Prussian dan sentuhan gaya klasik Inggris. Pada 1843, gedung ini terbakar dan rusak total, kemudian dibangun kembali pada 1952-1955 dan dipugar total pada 1983-1986.
Tak jauh dari situ, berdiri Universitas Humboldt. Di sisi yang lain, terdapat Neue Wache, bangunan yang khusus diperuntukkan buat menghormati para pahlawan yang gugur di medan perang, yang dibangun pada 1816-1818. Pada 1969, beberapa tentara dan tahanan tak dikenal dari kamp konsentrasi dikuburkan di situ. Dan sejak 1993, gedung ini digunakan sebagai pusat peringatan oleh pemerintah Republik Federal Jerman bagi para korban perang dan tirani.
Hanya beberapa menit dari monumen itu, ada sebuah museum besar yang memiliki lapangan luas dengan pemandangan yang memukau. Di sisi lain berdiri megah Berliner Dom, yaitu Katedral Berlin dengan kubah-kubah besar berwarna biru kehijauan.
Katedral ini dibangun pada 1747-1750, lalu digusur, dan kembali dibangun pada 1894-1905 oleh seorang arsitek bernama Raschdorff, pada masa Kaiser Wilhelm II. Kapel Sermon adalah salah satu ruangan di dalam katedral ini, yang memiliki altar emas dengan ukiran patung 12 rasul. Anda harus merogoh kocek 7 euro untuk bisa memasukinya.
Kebesaran mahakarya di dalam gereja ini begitu terasa. Setelah itu, saya menuju Alexanderplatz, salah satu pusat belanja terkemuka. Jika Anda tiba dari stasiun metro Alexanderplatz, akan terlihat kawasan yang begitu terbuka dengan beberapa bangunan tinggi modern.
Menurut sejumlah teman saya yang tinggal di Berlin, sebelum penyatuan Jerman pasca-runtuhnya Tembok Berlin, sepanjang 1 kilometer dari pintu perbatasan, tampak bangunan dan jalan raya yang hebat, besar, indah, dan megah. Selebihnya, pemandangannya begitu memprihatinkan. Saat ini sudah banyak plaza dan mal baru yang berdiri di sana.
Esok harinya, saya berkeliling Kota Berlin “eks Barat”. Istana Charlottenburg menjadi tujuan saya selanjutnya. Dan di seberangnya ada Museum Egyptian (dibangun pada 1851-1859), juga Stulerbau.
Saya kemudian tiba di Ku’Damm, kawasan yang dipenuhi butik-butik terkenal dunia. Sebut saja Mango, Guess, dan Louis Vuitton. Terdapat sebuah bangunan klasik yang jauh berbeda dengan kebanyakan gedung di tempat ini. Namanya Gereja Gendarmenmarkt, yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Saya juga menyempatkan diri menyambangi Wilhelm Memorial Church di Ku’Damm. Bangunan ini tinggal kenangan setelah mengalami rusak berat terkena serangan udara pada 1943. Sesungguhnya kini hanya tinggal sebagian kecil bangunan kuno dan bersejarah yang terdapat di tengah-tengah bangunan baru yang serba modern di kawasan itu.
Perjalanan saya teruskan ke salah satu daerah baru di Berlin, Sony Center di Potsdamer Platz. Di sini Anda bisa menjumpai perpaduan cinema IMAX, teater, restoran, dan tempat untuk berbelanja. Dulunya kawasan ini merupakan lapangan luas dengan banyak persimpangan jalan yang sangat ramai.
Saat Perang Dunia II, lapangan ini rusak berat dan dibagi oleh Amerika, Inggris, dan Uni Soviet dengan batas tembok. Setelah tembok diruntuhkan, daerah Potsdamer Platz ini menjadi kawasan bangunan terbesar di Eropa.
Mitos Selir Raja. Keesokan paginya, saya pergi menuju Potsdam. Sebelum Perang Dunia, Potsdam dikenal sebagai daerah industri yang bermasalah dengan polusi. Industri yang ada ketika itu adalah lokomotif, tekstil, dan farmasi. Di Potsdam ini ada semacam daerah atau kota kecil dengan berbagai tempat bekas istana dan bangunan kerajaan lainnya.
Saya lalu menuju Istana Sanssouci, yang dibangun pada 1745-1747 oleh Fredrick the Great. Tamannya sangat luas dan ditata apik. Di tengah taman itu ada kolam dengan air mancur serta berbagai bebek dan binatang lain. Dari situ kita bisa berjalan kaki ke New Palace of Sanssouci (dibangun pada 1763-1769).
Saya mendengar ada mitos yang terjaga hingga hari ini. Dulu, sang raja di istana ini memiliki kebiasaan menggelar pesta. Raja yang memiliki puluhan selir itu selalu mengundang raja-raja dari kerajaan lain dan juga sejumlah pejabat penting.
Saat pesta dimulai, puluhan selir raja akan berlarian dan bersembunyi di taman besar itu. Dan ketika raja mengatakan kepada para tamu, “Be my guest,” itu berarti tamu-tamu tersebut dipersilakan mengejar selir-selir yang bersembunyi tadi. “Jika berhasil menangkap selir, mereka bebas melakukan apa saja, termasuk berhubungan seks,” kata seorang teman saya saat itu. Wow!
Klub Seks. Malam harinya, saya diundang teman mengunjungi sebuah klub malam di Berlin. Awalnya, dia menunjukkan kepada saya sebuah klub yang berada tak jauh dari sebuah kolam renang di atas sungai. Lantai klub tersebut sepenuhnya adalah pasir pantai. Itu sebuah beach club.
Saya lalu diajak mendatangi sebuah klub yang lebih tepat disebut klub seks. Karena teman saya meminta saya memakai kostum hardcore sebagai dresscode, saya pun menyempatkan diri mampir ke sebuah toko kostum. Saya lalu mengenakan rok mini yang terbuat dari kulit, kemben yang separuhnya terbuat dari besi, dan sepatu bot lancip, plus cemeti.
Ketika sampai di depan klub tersebut, saya terheran-heran. Klub itu dari luar tampak menyerupai sebuah gudang tua yang tidak terawat. Teman saya hanya tersenyum seraya menarik tangan saya. “Ayo, kita masuk,” katanya cepat.
Aura sebuah klub malam begitu terasa saat saya masuk. Tidak disangka, penampilan luarnya sungguh menipu. Sebagai orang Timur, saya sedikit terkejut dengan pemandangan di dalam klub. Semua bartender dan pelayan, baik laki-laki maupun perempuan, tidak mengenakan baju alias topless.
Sementara itu, para clubber datang dengan berbagai kostum seks yang mengingatkan saya pada blue film. Ada laki-laki yang hanya mengenakan baju kulit, sementara bagian bawah tubuhnya telanjang. Ada perempuan seksi yang hanya menggunakan G-string. Ada pula pasangan yang sibuk bercumbu. Dan mata saya menangkap beberapa pasang lelaki-perempuan yang tengah having sex di sudut-sudut klub.
Di klub ini, semua tamu bebas berlaku apa saja, selama meminta izin. Maksudnya, jika Anda tertarik kepada seorang lelaki atau perempuan yang ada di klub itu dan Anda ingin mencium, memeluk, atau mungkin bercinta dengannya, Anda boleh meminta izin kepada yang bersangkutan secara langsung.
Saat saya sedang menikmati pemandangan di penjuru klub, seorang pria datang menghampiri saya. “Can I f**k you?” katanya. Saya hanya menggeleng dan tersenyum. Pria itu lalu meminta saya mencambuk bokongnya. Dan sebuah kalimat meluncur dari mulutnya, “Yes, baby.” Tawa saya lalu lepas seketika.
M
BOKS
Di Mana Menginap?
· Hotel Koenigin LuiseParkstr 8713086 BerlinTelepon: +49 (0)30-9 62 47-0Telefaks: +49 (0)30-9 62 47-160E-mail: koeniginluise@deraghotels.de
· Hotel HenrietteNeue Roßstraße 1310179 BerlinTelepon: +49 (0)30-2 46 00-900Telefaks: +49 (0)30-2 46 00-940E-mail: henriette@deraghotels.de
· Mercure Hotels & Novotels
Res.-Zentrale Messedamm 1014507 Berlin
· Holiday Inn Berlin-Humboldt Park in Berlin
Hochstraße 2-313357 Berlin
· Hotel Bellevue in Berlin
Emser Straße 19-2010719 Berlin
M
SAYA tiba pukul 09.30 waktu Berlin. Rasa letih yang membadan lenyap seketika. Mungkin karena ini kunjungan pertama saya dan didorong oleh hasrat untuk tahu tentang kota yang sempat menjadi pusat perhatian dunia di akhir Perang Dunia II ini.
Seusai sarapan, saya berjalan kaki menuju Tiergarten, taman terbesar di Berlin. Taman ini berdampingan dengan Reichstag alias gedung parlemen. Di sekitarnya terdapat banyak kantor perwakilan negara lain.
Saya mendapat cerita, taman ini pernah mengalami kerusakan yang hebat karena serangan bom saat Perang Dunia II, tapi pada 1949 kembali direnovasi. Tiergarten kini banyak difungsikan oleh penduduk kota sebagai tempat bersantai dan piknik.
Jalanan di sekitarnya tampak bersih dan tertata apik. Daun-daun yang beterbangan menunjukkan semilir angin pelan yang mengantarkan udara dingin siang itu. Di salah satu sudut taman itu berdiri Victoria Column, yang menjulang setinggi 210 kaki.
Saya kemudian melintasi jalan yang berada persis di depan gedung Bundeskanzleramt, kantor Perdana Menteri Jerman, lalu melewati sebuah lapangan luas yang berada di depan Reichstag. Di sana terlihat antrean panjang turis memasuki Reichstag. Sekadar info, untuk masuk ke dalam Reichstag, tidak dipungut bayaran.
Berada di bangunan ini membuat pikiran saya berada di masa lalu. “Di sinilah Hitler mengambil keputusan-keputusan penting bagi Nazi,” kata saya dalam hati. Di tengahnya, terdapat ruang kaca hingga ke bagian atap. Foto-foto bersejarah Jerman terdapat di lantai atas. Dulu, dari puncak gedung ini kita bisa melihat kegiatan di daerah Berlin Timur.
Brandenburg Gate berada di sebelah Reichstag, yang dapat dilalui lewat boulevard terkenal Unter den Linden. Saya bergerak ke arah timur Brandenburg Gate. Di depan sana, seorang lelaki tua sedang asyik memainkan komidi putar dengan musiknya.
Bangunan Bersejarah. Masih di jalan Unter den Linden, saya mendapati Opera House. Sesungguhnya bangunan ini dibangun sebagai Royal Opera pada 1741-1743 dengan gaya klasik Prussian dan sentuhan gaya klasik Inggris. Pada 1843, gedung ini terbakar dan rusak total, kemudian dibangun kembali pada 1952-1955 dan dipugar total pada 1983-1986.
Tak jauh dari situ, berdiri Universitas Humboldt. Di sisi yang lain, terdapat Neue Wache, bangunan yang khusus diperuntukkan buat menghormati para pahlawan yang gugur di medan perang, yang dibangun pada 1816-1818. Pada 1969, beberapa tentara dan tahanan tak dikenal dari kamp konsentrasi dikuburkan di situ. Dan sejak 1993, gedung ini digunakan sebagai pusat peringatan oleh pemerintah Republik Federal Jerman bagi para korban perang dan tirani.
Hanya beberapa menit dari monumen itu, ada sebuah museum besar yang memiliki lapangan luas dengan pemandangan yang memukau. Di sisi lain berdiri megah Berliner Dom, yaitu Katedral Berlin dengan kubah-kubah besar berwarna biru kehijauan.
Katedral ini dibangun pada 1747-1750, lalu digusur, dan kembali dibangun pada 1894-1905 oleh seorang arsitek bernama Raschdorff, pada masa Kaiser Wilhelm II. Kapel Sermon adalah salah satu ruangan di dalam katedral ini, yang memiliki altar emas dengan ukiran patung 12 rasul. Anda harus merogoh kocek 7 euro untuk bisa memasukinya.
Kebesaran mahakarya di dalam gereja ini begitu terasa. Setelah itu, saya menuju Alexanderplatz, salah satu pusat belanja terkemuka. Jika Anda tiba dari stasiun metro Alexanderplatz, akan terlihat kawasan yang begitu terbuka dengan beberapa bangunan tinggi modern.
Menurut sejumlah teman saya yang tinggal di Berlin, sebelum penyatuan Jerman pasca-runtuhnya Tembok Berlin, sepanjang 1 kilometer dari pintu perbatasan, tampak bangunan dan jalan raya yang hebat, besar, indah, dan megah. Selebihnya, pemandangannya begitu memprihatinkan. Saat ini sudah banyak plaza dan mal baru yang berdiri di sana.
Esok harinya, saya berkeliling Kota Berlin “eks Barat”. Istana Charlottenburg menjadi tujuan saya selanjutnya. Dan di seberangnya ada Museum Egyptian (dibangun pada 1851-1859), juga Stulerbau.
Saya kemudian tiba di Ku’Damm, kawasan yang dipenuhi butik-butik terkenal dunia. Sebut saja Mango, Guess, dan Louis Vuitton. Terdapat sebuah bangunan klasik yang jauh berbeda dengan kebanyakan gedung di tempat ini. Namanya Gereja Gendarmenmarkt, yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Saya juga menyempatkan diri menyambangi Wilhelm Memorial Church di Ku’Damm. Bangunan ini tinggal kenangan setelah mengalami rusak berat terkena serangan udara pada 1943. Sesungguhnya kini hanya tinggal sebagian kecil bangunan kuno dan bersejarah yang terdapat di tengah-tengah bangunan baru yang serba modern di kawasan itu.
Perjalanan saya teruskan ke salah satu daerah baru di Berlin, Sony Center di Potsdamer Platz. Di sini Anda bisa menjumpai perpaduan cinema IMAX, teater, restoran, dan tempat untuk berbelanja. Dulunya kawasan ini merupakan lapangan luas dengan banyak persimpangan jalan yang sangat ramai.
Saat Perang Dunia II, lapangan ini rusak berat dan dibagi oleh Amerika, Inggris, dan Uni Soviet dengan batas tembok. Setelah tembok diruntuhkan, daerah Potsdamer Platz ini menjadi kawasan bangunan terbesar di Eropa.
Mitos Selir Raja. Keesokan paginya, saya pergi menuju Potsdam. Sebelum Perang Dunia, Potsdam dikenal sebagai daerah industri yang bermasalah dengan polusi. Industri yang ada ketika itu adalah lokomotif, tekstil, dan farmasi. Di Potsdam ini ada semacam daerah atau kota kecil dengan berbagai tempat bekas istana dan bangunan kerajaan lainnya.
Saya lalu menuju Istana Sanssouci, yang dibangun pada 1745-1747 oleh Fredrick the Great. Tamannya sangat luas dan ditata apik. Di tengah taman itu ada kolam dengan air mancur serta berbagai bebek dan binatang lain. Dari situ kita bisa berjalan kaki ke New Palace of Sanssouci (dibangun pada 1763-1769).
Saya mendengar ada mitos yang terjaga hingga hari ini. Dulu, sang raja di istana ini memiliki kebiasaan menggelar pesta. Raja yang memiliki puluhan selir itu selalu mengundang raja-raja dari kerajaan lain dan juga sejumlah pejabat penting.
Saat pesta dimulai, puluhan selir raja akan berlarian dan bersembunyi di taman besar itu. Dan ketika raja mengatakan kepada para tamu, “Be my guest,” itu berarti tamu-tamu tersebut dipersilakan mengejar selir-selir yang bersembunyi tadi. “Jika berhasil menangkap selir, mereka bebas melakukan apa saja, termasuk berhubungan seks,” kata seorang teman saya saat itu. Wow!
Klub Seks. Malam harinya, saya diundang teman mengunjungi sebuah klub malam di Berlin. Awalnya, dia menunjukkan kepada saya sebuah klub yang berada tak jauh dari sebuah kolam renang di atas sungai. Lantai klub tersebut sepenuhnya adalah pasir pantai. Itu sebuah beach club.
Saya lalu diajak mendatangi sebuah klub yang lebih tepat disebut klub seks. Karena teman saya meminta saya memakai kostum hardcore sebagai dresscode, saya pun menyempatkan diri mampir ke sebuah toko kostum. Saya lalu mengenakan rok mini yang terbuat dari kulit, kemben yang separuhnya terbuat dari besi, dan sepatu bot lancip, plus cemeti.
Ketika sampai di depan klub tersebut, saya terheran-heran. Klub itu dari luar tampak menyerupai sebuah gudang tua yang tidak terawat. Teman saya hanya tersenyum seraya menarik tangan saya. “Ayo, kita masuk,” katanya cepat.
Aura sebuah klub malam begitu terasa saat saya masuk. Tidak disangka, penampilan luarnya sungguh menipu. Sebagai orang Timur, saya sedikit terkejut dengan pemandangan di dalam klub. Semua bartender dan pelayan, baik laki-laki maupun perempuan, tidak mengenakan baju alias topless.
Sementara itu, para clubber datang dengan berbagai kostum seks yang mengingatkan saya pada blue film. Ada laki-laki yang hanya mengenakan baju kulit, sementara bagian bawah tubuhnya telanjang. Ada perempuan seksi yang hanya menggunakan G-string. Ada pula pasangan yang sibuk bercumbu. Dan mata saya menangkap beberapa pasang lelaki-perempuan yang tengah having sex di sudut-sudut klub.
Di klub ini, semua tamu bebas berlaku apa saja, selama meminta izin. Maksudnya, jika Anda tertarik kepada seorang lelaki atau perempuan yang ada di klub itu dan Anda ingin mencium, memeluk, atau mungkin bercinta dengannya, Anda boleh meminta izin kepada yang bersangkutan secara langsung.
Saat saya sedang menikmati pemandangan di penjuru klub, seorang pria datang menghampiri saya. “Can I f**k you?” katanya. Saya hanya menggeleng dan tersenyum. Pria itu lalu meminta saya mencambuk bokongnya. Dan sebuah kalimat meluncur dari mulutnya, “Yes, baby.” Tawa saya lalu lepas seketika.
M
BOKS
Di Mana Menginap?
· Hotel Koenigin LuiseParkstr 8713086 BerlinTelepon: +49 (0)30-9 62 47-0Telefaks: +49 (0)30-9 62 47-160E-mail: koeniginluise@deraghotels.de
· Hotel HenrietteNeue Roßstraße 1310179 BerlinTelepon: +49 (0)30-2 46 00-900Telefaks: +49 (0)30-2 46 00-940E-mail: henriette@deraghotels.de
· Mercure Hotels & Novotels
Res.-Zentrale Messedamm 1014507 Berlin
· Holiday Inn Berlin-Humboldt Park in Berlin
Hochstraße 2-313357 Berlin
· Hotel Bellevue in Berlin
Emser Straße 19-2010719 Berlin
M



